Rabu, 31 Maret 2010

Faktor yang menyebabkan latar belakang foto menjadi blur / kabur

Faktor yang menyebabkan latar belakang foto menjadi blur / kabur


Banyak fotografer baik pemula maupun mahir, sering membuat latar belakang menjadi kabur. Memang foto semacam ini sangat populer karena membuat objek yang di foto menjadi lebih menonjol. Selain itu juga foto menjadi lebih enak dipandang.

Mudah membuat latar belakang menjadi kabur karena saya mengunakan  kamera berukuran sensor full frame atau sekitar 24X lebih besar daripada  kamera saku biasa

Mudah membuat latar belakang menjadi kabur karena saya mengunakan kamera berukuran sensor "full frame" atau sekitar 24X lebih besar daripada kamera saku biasa

Apa saja faktor yang membuat latar belakang foto menjadi kabur?

1. Bukaan lensa (Aperture)

Dengan mengunakan bukaan lensa yang besar (f/2.8 atau lebih besar lagi seperti f/1.4), maka latar belakang menjadi lebih kabur.

Semakin besar bukaan, semakin kecil angkanya.

2. Rentang fokal lensa (Lens focal length)

Semakin besar rentang fokal lensa yang digunakan, maka latar belakang menjadi lebih kabur. Contoh: Latar belakang foto yang diambil dengan rentang fokal lensa 55mm lebih kabur daripada bila diambil dengan rentang fokal lensa 18mm.

3. Rasio jarak antara subjek foto dengan kamera dan jarak antara subjek dengan latar belakang.

Semakin dekat jarak kamera ke subjek foto dan semakin jauh jarak subjek foto dengan latar belakang, maka foto menjadi lebih kabur.

Contoh: Bila jarak kamera ke subjek foto 1 cm, dan jarak subjek foto ke latar belakang 20 m, maka bisa dipastikan latar belakang menjadi sangat kabur. Hal ini karena rasio/perbandingan jarak sangat besar.

Sebaliknya bila jarak kamera ke subjek foto 20m, dan jarak subjek foto ke latar belakang 1 cm, maka bisa dipastikan latar belakang menjadi sangat jelas / tajam.

4. Ukuran sensor dalam kamera Anda.

Ukuran sensor kamera bervariasi, semakin besar, semakin mudah membuat latar belakang menjadi blur. Kamera ponsel atau kamera saku memiliki ukuran sensor yang relatif kecil dibandingkan dengan kamera digital SLR. Di dalam kamera digital SLR, terbagi lagi beberapa jenis ukuran sensor.

Yang paling kecil sampai yang paling besar yaitu: Four thirds (rasio 4 banding 3), ada yang crop sensor 1.6 (Canon), 1.5 (Nikon, Pentax, Sony), ada juga yang full frame (Nikon, Sony) dan medium format (Phase One, Leica S2).

Foto diatas diambil dengan kamera saku yang berukuran sensor  kecil, selain itu saya memakai rentang fokal lensa pendek, yaitu 28mm  sehingga latar belakang masih sangat tajam

Foto diatas diambil dengan kamera saku yang berukuran sensor kecil, selain itu saya memakai rentang fokal lensa pendek, yaitu 28mm sehingga latar belakang masih sangat tajam

Kesimpulan

Lalu bagaimana membuat latar belakang foto atau yang diluar dari fokus menjadi sangat kabur? Sederhana saja

Pakai lensa dengan bukaan besar, gunakan rentang fokal yang besar (jauh), perhatikan rasio jarak subjek foto dan latar belakang, dan gunakan kamera dengan ukuran sensor yang besar.

Kompensasi Eksposur

Kompensasi Eksposur


Bila Anda mengunakan setting otomatis atau semi otomatis di kamera saku atau kamera digital SLR Anda, maka prosesor dalam kamera akan berusaha menerjemahkan pemandangan yang ada dan kemudian mengatur setting yang optimal untuk pemandangan tersebut.

Di banyak kesempatan, mode otomatis memang bekerja sesuai dengan keinginan kita. Tapi di beberapa situasi lainnya, kamera gagal menangkap apa yang kita inginkan atau gambar yang direkam tidak sesuai dengan pemandangan yang ada.

exposure-compensation-buttonMisalnya bila pemandangan yang mau di foto didominasi oleh warna putih / terang seperti salju, tembok putih dan sebagainya, biasanya hasil foto akan tampak abu-abu atau lebih gelap daripada aslinya.

Sebaliknya bila pemandangan yang ada didominasi dengan warna hitam seperti di dalam cafe yang temaram, di malam hari dan sebagainya, hasil foto biasanya lebih terang daripada yang sebenarnya.

Untuk mengatasi kesalahan intepretasi kamera, kita dapat mengunakan fungsi tombol Kompensasi Eksposur (Exposure Compensation).

Cara mengunakannya sangat sederhana. Bila ingin hasil foto menjadi lebih terang, Anda bisa menaikkan nilai kompensasi eksposur sebesar +0.3, 0.7 sampai +2 atau lebih. Sebaliknya bila Anda ingin hasil foto menjadi lebih gelap, Anda tinggal turunkan nilai kompensasi eksposur tersebut.

Tombol kompensasi ekposur termasuk gampang ditemukan, tombol ini bersimbol plus dan minus.

Menariknya, fungsi ini bisa Anda temukan dari kamera saku yang murah sampai kamera digital SLR yang canggih. Untuk pemakai kamera saku yang tidak memiliki fungsi manual, fungsi ini menjadi penting karena Anda bisa mengatur besarnya cahaya yang masuk layaknya seperti fungsi manual.

Fotografi Olahraga di dalam ruangan

Fotografi Olahraga di dalam ruangan

Fotografi olahraga di dalam ruangan tergolong salah satu fotografi yang sulit. Seringkali fotografi jenis ini memerlukan kamera dan lensa yang bagus. Kadang diperlukan peralatan cahaya eksternal sebagai pencahayaan utama.

Kenapa fotografi jenis ini sulit? pertama pencahayaan gedung olahraga biasanya buruk (temaram). Selain itu, subjek foto bergerak dengan kecepatan tinggi. Hal ini mempersulit kamera untuk mendapatkan cukup cahaya.

Solusi yang saya ketahui ada dua. Pertama, set ISO tinggi, sekitar 1600. Set kamera di mode AV (Aperture priority) dan set bukaan maksimal, seperti f/3.5 atau f/.2.8 (angka-angka ini tergantung lensa, semakin kecil angkanya semakin besar bukaannya).

Catatan: Bila bingung apa itu f/3.5 atau ISO, silahkan baca Segitiga Emas Fotografi

Bukaan besar dan ISO tinggi membantu kamera mendapatkan cahaya yang cukup. Contoh gambar disamping diambil dengan ISO 1600, bukaan f/3.5 dan 1/640 detik. Kadang kala, setting ini belum cukup (ditandai dengan hasil foto yang blur).

Bila itu terjadi, maka diperlukan kamera yang bisa mengambil foto dengan ISO diatas 1600 (3200, 6400.. dst), lensa yang bukaannya lebih besar dari f/2.8 atau keduanya.

Solusi lain yaitu dengan pencahayaan eksternal. Misalnya memasang lampu kilat bertenaga besar dan mengunakan radio nirkabel seperti pocket wizard untuk menginstruksikan lampu blitz untuk menembakkan cahaya ketika kita mengambil foto.

Solusi dengan pencahayaan eksternal bagus untuk beberapa jenis olahraga tapi tidak semua karena repot memasangnya dan hasilnya tidak alami. Selain itu banyak acara olahraga tidak memperbolehkan lampu kilat. Di jenis olahraga lain seperti gulat, pencahayaan ini bisa memberikan efek yang lebih dramatis.

Upaya terakhir yaitu mengunakan lampu kilat di atas kamera digital. Supaya foto terlihat lebih alami, sebaiknya mengunakan ISO tinggi dikombinasikan dengan bukaan besar. Namun ingat untuk meminta ijin mengunakan lampu kilat kepada pengelola, karena lampu kilat sedikit banyak bisa mempengaruhi konsentrasi olahragawan/wati.

Lampu kilat eksternal dari atas menonjolkan bentuk otot dan membuat foto menjadi lebih dramatis

Kamera digital kompak atau kamera Digital SLR

Kamera digital kompak atau kamera Digital SLR


Sering banyak orang menanyakan ke saya, kamera apa yang cocok atau bagus buat dia? Topik ini dikhususkan untuk menjawab pertanyaan ini. Jenis kamera yang akan saya bahas adalah kamera digital.

Saya akan membahas kelebihan dan kekurangan dua jenis kamera populer, pertama adalah kamera kompak / compact sering disebut juga kamera digital dan kamera digital SLR. (Ada pula kamera jenis lain seperti superzoom, micro 4/3 akan saya singgung secara sekilas).

Ada dua perbedaan utama kamera digital saku dan kamera digital SLR. Perbedaan itu adalah besarnya sensor, dan kemampuan kamera untuk mengubah lensa (interchangeable lens).

Perbedaan Ukuran Sensor
Perbedaan sensor mengakibatkan kualitas gambar DSLR lebih baik terutama dalam merekam warna, dan lebih detil dan lebih bebas “noise” atau bintik2 pada foto di setting ISO tinggi. Oleh sebab itu, kamera DSLR lebih baik dalam merekam foto di kondisi lingkungan yang gelap. Meskipun demikian kemampuan kamera DSLR untuk mengambil gambar yang baik di situasi yang gelap juga tergantung dari bukaan lensa.

Perbedaan sensor juga mengakibatkan kamera digital SLR lebih baik dalam mengatur “depth of field” sehingga lebih mudah membuat latar belakang/depan menjadi kabur (blur atau out of focus). Sensor kecil dalam kamera digital membuat efek ini sulit dicapai.

Kemampuan untuk mengganti lensa
Perbedaan kamera untuk mengganti lensa sangat penting terutama untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan keinginan fotografer. Banyak lensa dalam dunia digital SLR yang memiliki karakteristik yang berbeda. Contohnya lensa makro untuk foto benda-benda kecil, lensa fish-eye atau ultra wide untuk menggambil gambar super lebar, lensa telephoto untuk mengambil gambar dari jarak jauh. Dengan mengunakan lensa khusus, maka hasil gambar kamera digital SLR lebih baik dan sesuai dengan apa yang dikehendaki.

Adapula perbedaan lain yang cukup ketara adalah kualitas dan besarnya badan (bodi) kamera. Kamera dSLR cenderung berukuran jauh lebih besar dari kamera kompak. Hal ini disebabkan karena kamera DSLR memiliki sensor yang lebih besar, memiliki cermin/prisma dan viewfinder sehingga fotografer bisa melihat dan mengkomposisikan gambar secara langsung dari lensa. Selain itu kamera DSLR juga memiliki baterai dalam ukuran yang lebih besar.

Selain itu kamera DSLR secara umum juga memiliki tingkat responsif yang tinggi dalam arti tidak ada jeda saat Anda menekan pemantik potret (shutter) dengan pengambilan gambar. Pengambilan gambar dengan kecepatan tinggi berturut-turut juga lebih baik dengan kamera digital SLR. Rata-rata kamera digital SLR pemula dapat mengambil gambar 3 foto per detik. Dan kamera digital SLR tingkat mahir dapat mengambil gambar antara 5 sampai 10 gambar per detik.

Poin terakhir adalah semua kamera digital SLR memiliki kemampuan untuk mengontrol kamera secara manual. Belakangan ini, kemampuan ini tidak ekslusif karena hadirnya beberapa kamera digital tingkat mahir yang juga memiliki kemampuan ini.

Keunggulan kamera digital kompak
Meskipun kamera DSLR memiliki banyak keunggulan terutama dalam menghasilkan foto yang lebih baik, kamera kompak memiliki keunggulan sendiri. Keunggulan utama kamera kompak atau sering disebut juga kamera saku adalah ukurannya yang kecil dan juga lebih murah. Kamera kompak biasanya juga memiliki built-in mode makro.

Kamera lainnya
Kamera superzoom adalah kamera yang memiliki jangkauan zoom yang sangat lebar, sehingga Anda dapat mengambil gambar lebar maupun jauh/telephoto. Selain itu kamera superzoom biasanya lebih responsive daripada kamera kompak.

Kamera micro 4/3 (Four-Thirds) adalah kamera inovasi baru. Kamera ini memiliki sifat seperti DSLR seperti memiliki sensor ukuran besar (4-5 kali lebih besar dari kamera kompak) dan kemampuan mengganti lensa, tapi ukurannya lebih kecil dari kamera DSLR tapi tidak sekecil kamera kompak secara umum. Ukuran ini bisa dicapai karena kamera micro 4/3 tidak memiliki cermin/prisma di dalam badan kamera. Akibatnya, pengguna kamera ini akan melihat viewfinder elektronik bukan secara langsung melalui lensa.

Kesimpulan
Lalu kamera jenis apa yang paling cocok untuk Anda? Tentunya dengan pemahaman Anda setelah membaca karakteristik jenis kamera digital yang ada, Anda dapat menentukan kamera yang paling pas untuk Anda. Hal-hal yang penting untuk dipertimbangkan adalah anggaran Anda, ukuran dan tentunya kualitas gambar yang diinginkan.

Langkah langkah Belajar fotografi dari nol

Langkah langkah Belajar fotografi dari nol


Belajar digital fotografi adalah sesuatu yang kompleks. Maka dari itu banyak orang mungkin kebingungan bagaimana cara belajarnya.. harus memulai darimana? nah post ini berupaya untuk memberikan langkah-langkah praktis dalam belajar fotografi.

Pertama-tama kita memerlukan kamera. Berdasarkan ukuran sensor, kamera terbagi dua, kamera saku dan kamera DSLR. Lalu apa bedanya kamera saku dan kamera DSLR? Saya cuma mampu membeli kamera saku, apakah saya tidak bisa belajar fotografi dengan kamera saku? Jangan takut, meski murah, kamera saku memiliki kelebihan tersendiri dan jangan jadikan halangan untuk belajar fotografi.

Kedua kita perlu belajar tentang eksposur cahaya. Inti dari fotografi adalah eksposur, atau total cahaya yang masuk ke dalam sensor peka cahaya. Karena cahaya tersebutlah, foto itu terbentuk. Peran kita sebagai fotografer adalah mengendalikan jumlah cahaya yang masuk dengan mengubah besarnya bukaan lensa, kecepatan rana dan ISO. Tiga elemen ini saya sebut sebagai segitiga emas fotografi.

Ketiga, kita tentu harus mempelajari kamera kita, terutama mode-modenya, pengukuran cahaya (metering) dan auto fokus.

Keempat, kita perlu tahu apa itu kedalaman fokus (depth of field) dan apa faktor-faktornya.

Kelima, kita harus tau bagaimana mengambil gambar yang tajam dan tidak kabur.

Keenam, kita harus mempelajari komposisi foto yang baik dan menarik.

Ketujuh, kita harus mempelajari karakter cahaya terutama arah dan intensitas cahaya.

Kedelapan, kita harus belajar antisipasi dan mengambil foto pada waktu yang tepat.

Kesembilan, kita harus belajar bercerita lewat foto, entah dengan satu foto atau satu seri foto.

Kesepuluh, kita harus belajar mengolah foto dengan efek digital. Olah foto di era digital mudah dipelajari dan membuka bab baru dalam fotografi digital.

Demikian kira-kira runtutan belajar fotografi untuk pemula. Seperti yang Anda lihat, masih banyak tulisan yang saya bisa bahas dari tiap langkah tersebut. Fotografi merupakan ilmu yang berkembang begitu pesat dan tidak ada habisnya, namun bila menemui kesulitan, harap jangan menyerah dan pelajari dan terus praktekkan.

Timing adalah segalanya

Timing adalah segalanya


Timing, atau saat mengambil foto adalah segalanya. Timing yang bagus membuat foto objek yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, di lain pihak timing yang buruk membuat foto objek yang luar biasa menjadi biasa-biasa saja.

Timing menjadi sangat penting saat mengambil foto aksi, seperti olahraga, satwa liar atau fotografi jalanan. Timing juga berlaku untuk fotografer pemandangan. Konon saat terbaik untuk mengambil foto pemandangan adalah 30 menit sebelum dan sesudah matahari terbit dan terbenam.

Lalu bagaimana mendapatkan timing yang pas? Banyak orang yang mengira bahwa berada di waktu dan tempat karena keberuntungan semata. Tapi sebenarnya, untuk mendapatkan timing yang baik bisa diantisipasi. Antara lain dengan cara:

Antisipasi

Antisipasi berarti kondisi kita selalu siap dalam memperhatikan situasi disekitar kita. Antisipasi juga berarti kita bisa memprediksi atau setidaknya mencoba memprediksi apa yang terjadi setelahnya. Di dalam fotografi olahraga, kita bisa belajar mengamati karakter atlit yang berlomba. Misalnya seorang atlit sepakbola selalu merayakan gol di sudut kanan lapangan, maka bila kita mau mengambil foto tersebut, seyogyanya kita siap berada di posisi tersebut.

Demikian juga dalam foto satwa liar di dalam safari. Kita harus mengenal karakter hewan-hewan tersebut sehingga tau timing atau moment yang pas untuk mengambil gambar. Misalnya ada hewan yang hanya keluar pada malam hari.

Foto ini hasil dari antisipasi dan kesabaran saya dalam menunggu  momen yang tepat.

Ketika musik mulai dimainkan dan mahasiswa/i mulai bangkit dari tempat duduknya, saya yakin akan terjadi sesuatu yang menarik. Berdiri dipojok sambil mengantisipasi pergerakan mereka, saya berhaisl merekam gerakan menarik dari ketiga mahasiswa/i ini

Kesabaran

Setelah berlatih mengantisipasi pergerakan objek foto, seringkali kita harus bersabar. Kadang, kita perlu menunggu cukup lama untuk mendapatkan momen yang baik. Dalam foto olahraga misalnya, kita merasa sudah di tempat yang benar, tinggal menunggu momennya, dan bila kita tidak sabar dan konsentrasi, kesempatan emas akan terlewatkan.

Dalam foto satwa liar, kesabaran merupakan sifat yang terpenting yang dimiliki, menunggu satwa keluar dari kandang kadang memakan waktu seharian.

Menguasai alat yang dipakai

Terakhir, untuk dapat mengambil foto di saat yang tepat, menguasai alat fotografi yang dipakai sangat penting. Dan memiliki kamera yang memiliki respon yang cepat juga sangat membantu. Menguasai alat bukan hanya mengetahui cara mengoperasikannya, tapi juga melatih diri sehingga kita terbiasa dengan kamera tersebut.

Seseorang fotografer biasanya memerlukan waktu cukup lama untuk benar-benar menguasai kontrol kamera yang dimiliki, oleh sebab itu tidak dianjurkan untuk mengganti-ganti kamera dengan waktu singkat karena Anda akan memerlukan waktu untuk beradaptasi kembali.

Reaksi atlit setelah mencetak gol kadang hanya berlangsung satu  atau dua detik sebelum di kepung oleh teman-teman mereka.

Reaksi atlit setelah mencetak gol kadang hanya berlangsung satu atau dua detik sebelum di kepung oleh teman-teman mereka.

Segitiga emas fotografi

Segitiga emas fotografi


Bukaan, ISO dan kecepatan pemetik potret (Aperture, ISO dan Shutter speed)

Kunci dari mendapatkan foto yang ideal tergantung dari segitiga emas fotografi. Segitiga emas fotografi adalah bukaan, kecepatan pemetik potret dan ISO. Kombinasi dari ketiganya menentukan hasil ekposure foto.

BUKAAN / APERTURE

Bukaan adalah bukaan lensa kamera dimana lensa masuk. Jika Anda berada di lingkungan dimana cahaya sangat terang, maka kita bisa menutup bukaan sehingga lebih sedikit cahaya masuk ke dalam. Jika kondisi lingkungan gelap, maka kita bisa membuka bukaan lensa sehingga hasil akhir menjadi optimal.

Hal yang unik dan kadang membingungkan pemula adalah nomor dalam setting bukaan adalah terbalik dengan besarnya bukaan. Misalnya angka kecil berarti bukaan besar, sedangkan angka besar berarti bukaan kecil.

Bukaan juga digunakan untuk mengontrol kedalaman bidang (depth of field). Bukaan besar membuat kedalaman bidang menjadi kecil, akibatnya latar belakang / depan menjadi kabur. Bukaan kecil membuat kedalaman bidang menjadi besar, akibatnya semua bidang dalam foto menjadi tajam atau berada dalam fokus.

Setiap lensa memiliki bukaan maksimum dan minimum. Angka yang tertera dalam lensa seperti 3.5-5.6 berarti maximum bukaan bervariasi antara 3.5 sampai 5.6.

SHUTTER SPEED

Kecepatan pemetik gambar / shutter speed adalah jangka waktu kamera membuka sensor untuk memasukkan cahaya. Satuan shutter speed adalah dalam detik atau pecahan detik. Biasanya berawal dari 1/4000 detik sampai to 30 detik. Variasi shutter speed ini tergantung dari badan kamera bukan pada lensa seperti pada bukaan.

Shutter speed mempengaruhi foto dalam dua hal. Kecepatan shutter speed yang tinggi membekukan objek yang bergerak. Shutter speed yang rendah/lama menangkap gerakan objek secara kontinu.

ISO

ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya. Ukuran dimulai dari angka 50, 80 atau 100 dan akan berlipat ganda sampai 3200 atau lebih besar lagi. ISO dengan ukuran angka kecil berarti sensivitas terhadap cahaya rendah, ISO dengan angka besar berarti sebaliknya.

ISO dengan angka besar atau disebut juga ISO tinggi akan menurunkan kualitas gambar karena munculnya bintik-bintik yang dinamakan “noise”. Foto akan terlihat berbintik-bintik seperti pasir dan detail yang halus akan hilang. Tapi untuk kondisi yang sulit seperti sedikit cahaya dalam ruangan, ISO tinggi seringkali diperlukan.

Dengan bermain dengan tiga setting dasar kamera, Anda akan bisa membuat foto Anda menjadi gelap, terang atau sedang. Gelap terangnya hasil akhir dalam foto tentunya tergantung selera Anda.